BANDUNG, FTV CHANNEL WIDYATAMA.AC.ID – Penggunaan efek VHS dalam franchise The Backrooms merupakan sebuah elemen estetika yang mendasar dan strategis. Tidak hanya gaya visual, efek VHS telah menjadi bagian franchise ini, baik dalam bentuk aslinya sebagai serial web di YouTube maupun dalam adaptasi film layar lebarnya yang akan datang. Efek VHS oleh Kane Parsons dalam serial The Backrooms yang viral bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari proses kreatif yang matang dan terencana. Parsons, yang saat itu masih berusia 16 tahun menggunakan perangkat lunak 3D Blender untuk membangun dunia The Backrooms dan Adobe After Effects untuk proses pascaproduksi. Ia secara sengaja menyisipkan elemen-elemen seperti butiran (grain) VHS dan goyangan kamera handheld untuk menciptakan ilusi rekaman lama dari era 90-an.
Ketika proyek ini diadaptasi menjadi film layar lebar oleh A24, muncul pertanyaan besar: apakah estetika VHS yang telah menjadi ciri khas akan dipertahankan? Berdasarkan berbagai petunjuk, jawabannya adalah ya, namun di tunjukan untuk beberapa scene dengan pendekatan yang lebih canggih dan terukur. Film ini secara jelas masih mewarisi akar found-footage dan estetika analog yang membuat serial aslinya begitu efektif. Para kreator film ini memahami bahwa kekuatan The Backrooms terletak pada “vibe” yang membuat bulu kuduk merinding, dan mereka memilih untuk tidak menghilangkannya. Namun, adaptasi film juga menandai sebuah evolusi.
Sebuah petunjuk penting datang dari sebuah foto di lokasi syuting yang menampilkan sebuah “slate” (papan klap) digital dengan tulisan 24 FPS. Ini adalah format standar untuk film sinematik, berbeda dengan 30 atau 60 fps yang biasa digunakan pada kamera rumahan atau video found-footage. Hal ini mengindikasikan bahwa film The Backrooms versi A24 tidak akan sepenuhnya berbentuk found-footage murni. Sebaliknya, film ini kemungkinan besar akan menjadi sebuah film horor sinematik konvensional yang secara selektif menggunakan gaya found-footage dan efek VHS pada momen-momen tertentu untuk membangun ketegangan dan memberikan penghormatan pada sumber aslinya. (***Athallah Maisan Putra)
