BANDUNG, FTV CHANNEL WIDYATAMA.AC.ID – halo SAHABAT FTV. Masih ingat dengan film 5 Centimeter Per Second? Nah, film tersebut merupakan karya animasi bergenre drama romantis asal Jepang yang rilis tahun 2007 dan disutradarai oleh Makoto Shinkai. Pada 10 OKtober 2025, film tersebut diadaptasi menjadi live action oleh Yoshiyuki Okuyama. Mulai tayang di bioskop Indonesia pada 30 Januari 2026. Meskipun diadaptasi live action, adaptasinya tetap mempertahankan cerita aslinya. Mengisahkan kisah cinta Takaki Tono dan Akari Shinohara, dua sahabat masa kecil yang terpaksa harus berpisah dan menghadapi hubungan jarak jauh. Berikut informasi tentang teknologi yang dipakai dari film tersebut.
Roll Film 16mm
Di zaman sekarang, sudah banyak industri film yang menggunakan teknologi digital karena praktis dan cepat. Namun, ada satu hal yang sangat menarik dari proses pembuatan film tersebut. Di tengah ramainya industri film yang serba digital dan modern, sutradara Yoshiyuki Okuyama justru memilih jalan yang terkesa ntradisional dan memakan waktu lebih lama. Ia memutuskan untuk menggunakan format roll film 16mm. Langkah yang diambil Okuyama terbilang cukup unik. Ia tidak merekam gambar langsung menggunakan kamera analog jadul dari awal. Ia tetap merekam seluruh adegannya secara digital terlebih dahulu. Setelah itu, mentransfernya ke dalam roll film 16mm dan dibalikan kembali menjadi format digital yang bisa ditonton di layar. Proses tersebut dikonfirmasi langsung oleh Okuyama. Seperti yang ia sampaikan dalam wawancaranya di Anime News Network, “Kami merekamnya secara digital, tapi kami menggunakan film recording (filming out) dan mentransfernya ke film 16mm.”
Mengapa 16mm?
Pemilihan format 16mm tersebut memiliki hubungan dengan tema filmnya, tentang perasaan rindu, jarak yang memisahkan, dan kenangan masa lalu yang perlahan-lahan mulai memudar seiring berjalannya waktu. Seperti yang dikatakan oleh Okuyama, proses memindahkan rekaman ke roll film 16mm tersebut sengaja dilakukan hanya untuk mendapatkan tekstur grain. Di era modern seperti sekarang, bisa saja dengan mudah menambahkan tekstur grain tersebut lewat digital. Namun, Okuyama merasa bahwa keaslian, kehangatan, dan ketidaksempurnaan dari roll film 16mm berbeda. Ada rasa yang tidak bisa ditiru begitu saja oleh filter digital biasa. Tekstur grain di dalam film tersebut menjadi bahasa visual yang bisa mewakili berbagai emosi dari kesepian, sedih, galau, dan sesuatu yang berkaitan dengan hidup. Oleh karena itu, keputusan Okuyama menggunakan roll film 16mm dalam 5 Centimeter Per Second live action tersebut bukan karena tidak sengaja. Melainkan murni sebuah pilihan seni dan keindahan visual yang dirancang khusus untuk membuat cerita dalam filmnya terasa lebih hidup, nyata, dan menyentuh hati penonton. Buat kalian yang ingin menonton, sayangnya film 5 Centimeter Per Second live action sudah mulai perlahan menghilang dari bioskop. Jadi ada kemungkinan mereka akan menayangkannya kembali lewat platform OTT. Tetap tunggu pengumuman resminya ya. (***Gunawan Muhammad Faturrahman)
