social media
APA KATA KALIAN ? Viral

FTV Tergeser Oleh Drama Layar Vertikal

BANDUNG, FTV CHANNEL WIDYATAMA.AC.ID – Sahabat FTV, Kalian pasti tau kan bahwa menonton FTV merupakan kegiatan menonton di tv yang besar dan beraspek horizontal, memiliki alur cerita yang cukup Panjang, dan meluangkan waktu setidaknya 2 jam untuk menikmati alur cerita yang terstruktur. Namun zaman sekarang, Banyak drama yang berbentuk vertikal, memiliki alur yang pendek dan memakan waktu yang singkat

Fenomena ini mengambil alih perhatian audiens. Cerita yang dulunya panjang kini diiris menjadi puluhan episode berdurasi satu hingga dua menit saja. Apa yang memicu pergeseran dalam industri penceritaan visual ini?

Menyesuaikan Rentang Perhatian Umum

Di Era ini, kita harus mengakui bahwa kebiasaan mengonsumsi informasi telah mengubah struktur otak dan rentang perhatian masyarakat modern. Algoritma media sosial melatih penonton untuk mendapatkan kepuasan instan. Jika dalam 3 detik pertama sebuah video tidak menarik, Masyarakat modern akan menggulir layer ke atas (scrolling). Kreator FTV dan drama vertikal merespons realitas ini dengan membuang semua basa basi naratif. Setiap episode dirancang agar selalu memiliki waktu yang singkat dan berisi konflik yang intens, tamparan, tangisan, atau pengungkapan rahasia di detik-detik akhir, memaksa penonton untuk terus menekan tombol “episode selanjutnya”.

Efisiensi Biaya Produksi Dan Ide Bisnis Baru

Di luar faktor psikologis penonton, pergeseran ini didorong oleh efisiensi ekonomi. Produksi drama televisi tradisional membutuhkan kru besar, peralatan mahal, dan proses pascaproduksi yang panjang. Sebaliknya, drama vertikal sering kali diproduksi hanya dalam hitungan hari dengan anggaran yang jauh lebih minim. Selain itu, model distribusinya tidak lagi bergantung pada stasiun televisi atau rating Nielsen. Banyak platform drama vertikal menggunakan sistem paywall mikro, di mana penonton membayar nominal kecil (melalui koin digital) untuk membuka episode-episode penentu. Secara objektif, ini adalah pergeseran model bisnis dari siaran massal gratis (dengan iklan) menjadi monetisasi langsung ke konsumen secara eceran.

Era FTV tradisional mungkin belum sepenuhnya mati, tetapi ia sedang dipaksa untuk berbagi ruang dengan drama vertikal. Bagi para calon pembuat film dan pekerja televisi, memahami fenomena ini bukan lagi sebuah pilihan, melainkan keharusan untuk bisa bertahan di industri yang bergerak secepat usapan jari di layar ponsel.(***Dzakwan Rafid Hauzaan)

Related posts

Film Dokumenter “The Mahuse’z”, Menilik Konflik Agraria di Merauke

FTV CHANNEL

Video Musik “Wonderland Indonesia” Ciptaan Alffy Rev Feat. Novita Bachmid Trending di Youtube & Viral di Tiktok

FTV CHANNEL

Tak Mau Curi Jambu Tetangga, Rizky Bocah SD Banjir Pujian Warganet

FTV CHANNEL