BANDUNG FTV CHANNEL WIDYATAMA.AC.ID Hallo – sobat FTV! Pernah nggak sih kalian ngerasa aneh ketika sebuah film yang sudah cukup lama masih sering dibicarakan orang sampai sekarang? Padahal ceritanya sudah kita tahu sejak kecil, bahkan mungkin sudah pernah ditonton berkali-kali. Tapi tetap saja, rasa penasaran itu muncul lagi. Hal itu juga yang terjadi pada film Cinderella versi live action tahun 2015. Meskipun bukan film baru, cerita dan visualnya masih sering bikin orang kepo dan ingin menontonnya lagi. Artikel ini akan ngajak kamu masuk lagi ke dunia Cinderella 2015, dari ceritanya sampai ke balik layar, buat ngebuktiin kalau film lama pun masih punya daya tarik.
Cerita yang kita sudah tahu, tapi tetap enak diikuti
Kita mulai dari Ella, gadis kecil yang hidupnya awalnya penuh cinta. Tapi kebahagiaan itu berhenti ketika ibunya meninggal dunia. Sebelum pergi, sang ibu meninggalkan pesan sederhana agar Ella selalu berani dan tetap baik hati, apa pun keadaannya. Setelah ayahnya menikah lagi lalu wafat, hidup Ella berubah drastis. Ia diperlakukan seperti pembantu oleh ibu tiri dan dua saudara tirinya, sampai akhirnya mendapat julukan Cinderella. Meski hidupnya berat, Ella tetap berusaha jadi dirinya sendiri, baik, sabar, dan tidak menyimpan dendam. Di tengah hidup yang seperti itu, Ella bertemu Kit di hutan. Ia tidak tahu kalau pemuda ramah itu adalah pangeran. Pertemuan singkat ini jadi titik balik cerita. Dengan bantuan Ibu Peri, Ella bisa datang ke pesta dansa kerajaan, lengkap dengan gaun ikonik dan sepatu kaca. Kita tahu aturannya sebelum tengah malam, semua harus berakhir. Sepatu kaca yang tertinggal menjadi kunci. Dari sanalah cerita dongeng ini sampai ke akhir bahagianya Ella ditemukan, bersatu dengan Kit, dan bukan cuma jadi ratu, tapi sosok pemimpin yang berani dan baik hati.
Proses dongeng ini dibangun secara pelan-pelan
Film ini sebenarnya sudah direncanakan sejak 2010 dan mulai dikembangkan serius pada 2012, saat Disney lagi gencar bikin versi live action dari animasi klasik. Naskahnya ditulis oleh Chris Weitz dengan beberapa perubahan supaya ceritanya terasa lebih manusiawi. Masuk praproduksi tahun 2013, tim film ini fokus ke detail gaun Cinderella, desain istana, sampai pencahayaan yang bikin filmnya terasa lembut. Kenneth Branagh nggak mau film ini terlalu gelap, tapi juga nggak terlalu kartun. Hasilnya? Film yang terasa klasik tapi tetap relevan.
Pemilihan Pemeran yang nentuin nuansa cerita
Pemilihan pemeran sempat jadi tantangan. Peran Cinderella awalnya ditawarkan ke Emma Watson, tapi ditolak. Akhirnya Lily James dipilih dan berhasil memberi Cinderella versi yang lembut tapi nggak lemah. Richard Madden sebagai Pangeran Kit tampil sederhana dan hangat, sementara Cate Blanchett sukses bikin ibu tiri terasa elegan tapi dingin. Helena Bonham Carter sebagai Ibu Peri jadi penyegar aneh, lucu, tapi penuh empati.
Behind the scenes dongeng ini dibangun dengan kerja yang ribet dan serius
Sekarang kita benar-benar masuk ke balik layar Cinderella 2015. Di bagian ini, penting buat tahu satu hal bahwa film yang kelihatannya lembut, manis, dan penuh sihir ini justru dibuat dengan proses yang cukup ribet dan sangat terkontrol. Hampir tidak ada yang benar-benar terjadi begitu saja. Semuanya direncanakan.
Pertama, soal adegan kuda dan kereta, yang jadi simbol paling ikonik dari Cinderella. Adegan ini melibatkan penunggang profesional berpengalaman. Lily James tidak dibiarkan berinteraksi dengan kuda tanpa pengamanan. Setiap kuda sudah dilatih khusus, dan sebelum syuting dimulai, gerakan kuda, jalur kereta, hingga posisi kamera sudah dikoreografikan. Selama pengambilan gambar, pelatih kuda selalu berada di lokasi untuk memastikan kondisi hewan tetap tenang dan aman.
Lalu kita masuk ke hewan-hewan rumah di kediaman Cinderella, yaitu ayam, bebek, kambing, dan kelinci. Hewan-hewan ini memang benar-benar ada di lokasi syuting, tapi jangan bayangkan mereka dilepas bebas lalu kamera merekam apa adanya. Justru sebaliknya. Mereka diarahkan dari luar kamera menggunakan teknik khusus, suara, dan isyarat tertentu. Tujuannya agar satu adegan terlihat alami tanpa membuat hewan stres.
Bagian yang sering bikin penonton baru sadar setelah tahu BTS nya adalah interaksi kucing dan tikus. Di layar, mereka terlihat lucu dan hidup berdampingan. Tapi kenyataannya, kucing dan tikus tidak pernah difilmkan bersama dalam satu frame. Semua adegan mereka direkam secara terpisah. Setelah itu, barulah digabung menggunakan CGI. Teknik ini dipakai demi keamanan hewan sekaligus menjaga hasil visual tetap meyakinkan.
CGI juga berperan besar dalam adegan transformasi hewan mulai dari tikus yang berubah jadi kuda, sampai kemunculan rusa. Adegan-adegan ini sepenuhnya dibuat dengan efek visual komputer. Jadi, sihir yang kita lihat di layar sebenarnya adalah hasil kerja tim VFX, bukan trik sulap di lokasi.
Menariknya, meskipun film ini sangat memperhatikan detail visual dan keamanan hewan, tidak semua adegan berada di bawah pengawasan American Humane Association. Hal ini terjadi karena keterbatasan produksi dan jadwal syuting yang tidak pas waktunya. Fakta ini menunjukkan bahwa produksi film besar pun tetap harus berhadapan dengan kompromi teknis di lapangan.
Kalau dipikir ulang, bagian BTS ini justru bikin film Cinderella terasa lebih manusiawi. Dunia dongeng yang terlihat lembut dan ajaib itu ternyata dibangun dari latihan, perhitungan, teknologi, dan kerja tim yang rapih. Jadi, setiap kali kita melihat Cinderella melangkah ke kereta atau berlari sebelum tengah malam, di baliknya ada puluhan orang yang memastikan momen itu bisa terjadi dengan aman dan indah.
Kenapa film ini masih menarik ditonton sekarang?
Mungkin karena Cinderella 2015 nggak cuma soal kisah cinta. Film ini soal bertahan jadi orang baik di dunia yang nggak selalu baik. Pesannya sederhana, tapi relevan bahkan bertahun-tahun setelah filmnya rilis. Makanya, meskipun ini film lama, rasa penasarannya masih ada. Dan setiap kali ditonton ulang, Cinderella tetap berhasil ngingetin kita bahwa keberanian dan kebaikan hati nggak pernah ketinggalan zaman.
Nah sobat FTV, setelah ngobrol panjang soal cerita sampai balik layar filmnya, sekarang mungkin kamu jadi lebih paham kenapa Cinderella 2015 masih sering bikin orang penasaran. Walaupun ceritanya sudah sangat kita kenal, film ini tetap berhasil terasa hangat setiap kali ditonton lagi. Jadi kalau setelah baca artikel ini kamu jadi kepikiran buat nonton ulang, tenang aja film Cinderella 2015 masih bisa kamu tonton lagi di Disney+ Hotstar. Siapa tahu, kali ini rasanya malah jadi lebih seru karena kamu sudah tahu cerita dan rahasia di balik layarnya. (***Aisyah Yendriputri)
