INTERMEZZO

Psikolog Suara Mengapa Frekuensi Rendah dalam Film Horror Bisa Memicu Reaksi Penonton

BANDUNG, FTV Channel WIDYATAMA.AC.ID – Halo sobat FTV!Pernahkah Anda merasa sesak napas, mual, atau perasaan tidak enak yang mendalam saat menonton film horor, bahkan sebelum sang monster muncul di layar? Itu bukan sekadar imajinasi Anda. Para pembuat film horor sering menggunakan senjata rahasia yang menyerang sistem saraf kita secara langsung: Infrasonik.

Psikologi suara memainkan peran krusial dalam menciptakan rasa takut. Di balik musik latar yang mencekam, terdapat manipulasi frekuensi rendah yang dirancang untuk memicu respons purba dalam tubuh manusia.

Tema ini menarik karena mengungkap sisi biologis dari pengalaman menonton yang seringkali dianggap hanya sebagai hiburan visual. Sering kali, rasa takut yang kita rasakan bukan berasal dari apa yang
kita lihat (seperti monster atau darah), melainkan dari apa yang kita dengar atau bahkan suara
yang tidak bisa kita dengar secara sadar.Memahami Infrasonik dan Frekuensi Rendah memberikan alasan baru tentang bagaimana sineas “meretas” sistem saraf manusia untuk menciptakan kecemasan tanpa perlu
mengeluarkan satu kata pun.

Suara yang Dirasakan, Bukan Didengar

Manusia secara umum dapat mendengar frekuensi antara 20 Hz hingga 20.000 Hz. Suara di
bawah 20 Hz disebut sebagai infrasonik. Meskipun telinga kita tidak bisa menangkap
getarannya sebagai bunyi yang jelas, tubuh kita tetap meresponsnya.Dalam film horor,
penggunaan frekuensi rendah (biasanya antara 17 Hz hingga 19 Hz) dapat memicu fenomena
fisik yang nyata, seperti Disorientasi visual Karena frekuensi ini mendekati frekuensi
resonansi bola mata manusia, getarannya dapat menyebabkan pandangan sedikit kabur, yang
sering kali otak sebagai penampakan “bayangan” di sudut mata.

Resonansi Tubuh dan Naluri

Setiap organ dalam tubuh manusia memiliki frekuensi resonansi alami. Ketika film horor
memutar suara bass yang sangat dalam sub-bass, suara tersebut secara menggetarkan organ
dalam kita. bagian otak yang bertanggung jawab atas respons fight or flight lawan atau lari.
Akibatnya, meskipun Anda tahu Anda sedang duduk di bioskop yang aman, tubuh Anda
melepaskan adrenalin dan kortisol seolah olah ada predator di dekat Anda.

Fenomena “Non Linear Sounds”

Selain frekuensi rendah, film horor sering menggunakan suara non linear suara yang
melampaui kapasitas normal instrumen atau pita suara, seperti teriakan yang pecah atau
gesekan biola yang melengking tak beraturan. Penelitian menunjukkan bahwa manusia secara
instingtual merasa terganggu oleh suara ini karena mirip dengan teriakan hewan yang sedang
terancam atau tangisan bayi dalam bahaya. Penggabungan antara frekuensi rendah yang
membuat cemas dan suara non-linear yang mengejutkan menciptakan “koktail” psikologis
yang membuat penonton merasa tidak berdaya. ***Mohammad Rayhan Elfarisi

 

Related posts

Cinta Bayaran Berujung Baper Sinopsis dan Review “Boyfriend on Demand”

FTV CHANNEL

Mengintip Proses Pembuatan Film Hopppers (2026)

FTV CHANNEL

BREAKING NEWS : Pangeran Philip “Cinta Sejati Ratu Elizabeth” Meninggal di Usia 99 Tahun

FTV CHANNEL